komparase.com

Penjualan Rumah Mewah Bos Evergrande: Tinjauan Pasca Krisis

Rabu, 10 Juli 2024 | 09:00 WIB
chairman evergrande (foto: detik.com)
chairman evergrande (foto: detik.com)

Rumah mewah yang dimiliki oleh bos Evergrande, Hui Ka Yan, di Hong Kong akhirnya berhasil terjual pada bulan lalu dengan harga yang cukup mengejutkan. Dilaporkan oleh South China Morning Post, harga penjualannya mencapai HK$448 juta atau sekitar Rp934,3 miliar (dengan kurs Rp2.085).

Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 44% dari perkiraan nilai propertinya yang sebelumnya ditaksir mencapai HK$800 juta. Rumah dua lantai ini akhirnya terjual pada Maret 2023 sebagai bagian dari upaya untuk menyelesaikan tagihan yang belum dibayar setelah properti tersebut disita oleh China Construction Bank pada November 2022.

Lokasinya yang strategis, berada di 10B Black's Link, berdekatan dengan Klub Kriket Hong Kong dan jalur trekking populer di wilayah tersebut, turut menjadi nilai tambah bagi properti ini.

Properti seluas 5.171 kaki persegi atau setara dengan 480 meter persegi tersebut akhirnya dibeli oleh Sassicaia Company Limited. Kedua direktur perusahaan ini, yang terdaftar pada bulan April, memiliki paspor Singapura, Lim Choi Hwee, dan Bartley Directors, sebuah perusahaan yang terdaftar di Bermuda, menggunakan agen di Hong Kong sebagai sekretaris perusahaan mereka.

Penjualan ini menunjukkan kemajuan dalam upaya likuidator dan penerima untuk mengungkap jaringan utang yang terkait dengan Evergrande dan pendirinya, Hui Ka Yan. Mereka berusaha menyelesaikan kewajiban yang diperkirakan mencapai US$300 miliar atau sekitar Rp4.885 triliun (dengan kurs Rp16.284) setelah likuidasi pengembang tersebut pada Januari 2024.

Kehilangan kekayaan Hui Ka Yan, yang pernah menjadi orang terkaya di China, sebagian besar disebabkan oleh krisis utang yang melanda perusahaannya, Evergrande. Krisis tersebut dipicu oleh pembatasan pinjaman yang diberlakukan pada tahun 2021, menghambat akses pembiayaan bagi pengembang yang melampaui batas leverage bank sentral.

Evergrande, yang berkantor pusat di Guangzhou, gagal membayar obligasi luar negeri senilai US$20 miliar (sekitar Rp325,6 triliun).

Situasi ini mendorong Evergrande, salah satu pengembang terbesar di China, untuk menghadapi likuidasi. Perintah likuidasi ini dikeluarkan oleh pengadilan Hong Kong pada Januari 2024.

Pada Maret 2024, Komisi Regulasi Sekuritas China memberikan denda sebesar 4,2 miliar Yuan atau sekitar Rp9,4 triliun (dengan kurs Rp2.246) kepada Evergrande karena perusahaan tersebut dianggap telah 'memompa' penjualannya sebesar 564 miliar Yuan (sekitar Rp1.266 triliun) pada tahun-tahun sebelum keruntuhan keuangannya.

Selain itu, Komisi Regulasi Sekuritas China juga memberikan denda sebesar 47 juta Yuan (sekitar Rp105,5 miliar) dan larangan seumur hidup untuk mengakses pasar modal kepada pendiri perusahaan, Hui Ka Yan, yang juga dikenal sebagai Xu Jiayin.

Sementara itu, enam eksekutif lainnya dan mantan eksekutif Evergrande masing-masing dikenakan denda antara 200.000 Yuan (sekitar Rp449,1 juta) hingga 15 juta Yuan (sekitar Rp33,6 miliar).

Topik

Komentar

Berita

Telah Dipilih

Silahkan Pilih yang Lain.

x

Belum memiliki akun? Daftar di Sini